Home About Story Performance Member

Story

Menemukan Harmoni Kehidupan di Tengah Perjuangan Autoimun

06 September 2026
Menemukan Harmoni Kehidupan di Tengah Perjuangan Autoimun



Perjalanan hidup Alva bukanlah sebuah garis lurus yang lancar tanpa hambatan. Selama 30 tahun lebih, ia harus bersahabat erat dengan dua jenis penyakit autoimun sekaligus  yaitu Psoriasis dan Sjogren. Perjuangannya dimulai sejak belia, tepatnya di bangku kelas 3 SMA. Gejala awal berupa kulit yang tampak ruam, bersisik, hingga terkelupas sempat memicu infeksi sekunder dan membuat tubuhnya berulang kali menggigil.

Di masa remaja yang penuh dengan cerita ups and downs, diantaranya tekanan akademik, stres karena pikiran tentang pilihan jurusan kuliah, membuat kondisi fisik Alva menurun dan memicu inflamasi. Selain itu, penyakit yang juga mengganggu penampilan, tentunya menjadi beban tersendiri, terlebih bagi seorang perempuan. Butuh waktu lima tahun pencarian medis sebelum akhirnya dokter spesialis autoimun mengonfirmasi diagnosis tersebut dan memberikan penanganan yang tepat. Rasa sedih, takut, dan perasaan lain yang bercampur aduk pasti ada karena harus menerima kenyataan bahwa sakit jenis ini akan menemaninya seumur hidup.

Sejak saat itu, perjalanan pengobatan medis yang panjang pun dimulai. Alva harus akrab dengan berbagai obat keras, mulai dari kortikosteroid hingga terapi obat kemoterapi seperti methotrexate. Efek samping seperti moon face sudah menjadi langganan sehari-hari. Bahkan, masa-masa kehamilan dan persalinan menjadi tantangan tersendiri yang menguji ketahanan fisik dan mentalnya, Alva harus benar-benar memenej emosi dan energi tanpa bergantung pada obat-obatan keras. Namun saat muncul inflamasi di masa kehamilan, sesekali dokter tetap memberikan obat-obat dengan dosis yang lebih rendah. Tentu saja kekhawatiran tetap ada, tetapi Puji Tuhan, anak pertama, putri (lahir 1997) dan anak kedua, putra  (lahir 1998), lahir dalam keadaan sehat. Saat ini mereka sudah bekerja dan yang kedua juga melanjutkan kuliah di Belanda.

Titik balik terjadi tiga tahun lalu. Setelah kondisinya mencapai fase remisi, Alva memutuskan untuk mengubah pendekatan pengobatannya dari medis beralih ke obat herbal. Lewat saran seorang teman yang mendalami functional medicine di Inggris, ia memberanikan diri lepas dari obat-obatan dokter dan beralih sepenuhnya ke gaya hidup sehat (lifestyle transformation). Alva melakukan intermittent fasting, menjaga pola tidur, berolahraga, mengelola beban stres, dan selalu meluangkan waktu untuk me time. Tidak mudah untuk secara konsisten menjalaninya dan selalu ada saja tantangannya, kadang ada rasa lelah, bosan, tapi semua terus diupayakan.

Bagi Alva, proses healing atau pemulihan diri tidak hanya soal menjaga fisik, tetapi juga memberi ruang bagi jiwa. Di samping hobinya yang menyukai kesendirian, ketenangan seperti pergi ke pantai, membaca buku, menggambar, dan menulis secara otodidak tanpa guru, ia menemukan salah satu sarana healing terbesarnya lewat musik dan bernyanyi.

Bergabung dengan komunitas paduan suara Swara Jakarta ’80 (SJ ’80) menjadi langkah berharga baginya. Berbeda dengan komunitas lain yang cenderung tegang dan terlalu serius, “SJ ’80 menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan, berkat arahan Coach yang seru, lucu, penuh canda namun tetap serius dalam latihan. Coach selalu membuat suasana segar terlebih kesabarannya menghadapi kami yang usianya 55 tahun sampai 65 tahun.” tukas Alva. 

“Selain itu para pengurus SJ’80 terus berupaya menghadirkan ruang yang nyaman bagi anggotanya dan selalu inovatif dalam menyiapkan perform di area publik. Kejutan-kejutan kecil dari Coach dan pengurus SJ’80 membuat kami merasa komunitas choir ini sangat berbeda dan punya tempat di hati kami tersendiri.” lanjut Alva. 

Lewat Swara Jakarta ’80, bernyanyi bukan sekadar menyalurkan hobi, melainkan juga wahana untuk merayakan kehidupan. Ada rasa bangga dan pencapaian tersendiri ketika berdiri di atas panggung di usia yang matang, menyadari bahwa kualitas diri dan suaranya masih terjaga dengan baik. Lebih dari itu, menyatukan harmonisasi suara bersama rekan-rekan sesama anggota mengajarkan indahnya mengesampingkan ego demi terciptanya sebuah nada yang indah. Apalagi dukungan dari keluarga tercinta juga sangat besar dalam hal ini.

Kini, Alva tidak hanya merasa lebih sehat, tetapi juga jauh lebih bahagia. Baginya, Swara Jakarta ’80 bukan sekadar kelompok bernyanyi, melainkan ruang hangat untuk saling mendukung, menjaga kekompakan, dan terus menyalurkan energi positif bersama-sama.

  Kembali ke Story